
PGPAUD Tasikmalaya UPI: Riset, Pembelajaran, dan Pengabdian Masyarakat PAUD
Saya melihat PGPAUD Tasikmalaya UPI sebagai ekosistem yang merangkai tiga pilar utama perguruan tinggi: riset, pembelajaran, dan pengabdian masyarakat. Ketiganya bukan sekadar agenda administratif, melainkan jantung yang memompa inovasi bagi PAUD, terutama di wilayah Priangan Timur. Di bawah semangat Merdeka Belajar, program ini menempatkan anak, guru, dan keluarga sebagai mitra setara—sebuah kolaborasi yang hangat sekaligus berlandaskan evidensi.
Riset yang Berjejak dan Berdampak
Saya meyakini riset efektif bermula dari masalah nyata. Di PGPAUD Tasikmalaya UPI, fokus kajian berkisar pada perkembangan anak, asesmen autentik, kurikulum operasional satuan PAUD (KOSP), literasi-numerasi dini, permainan tradisional sebagai media belajar, hingga teknologi ramah anak. Metode yang digunakan variatif: penelitian tindakan kelas, studi etnografi kecil, sampai eksperimen kuasi yang melibatkan sekolah mitra. Hasilnya tidak berhenti di jurnal; ia kembali ke kelas sebagai praktik baik, modul singkat, dan pelatihan berbasis kebutuhan. Saya senang saat melihat guru PAUD menggunakan instrumen asesmen yang kami kembangkan untuk memetakan capaian perkembangan anak alih-alih sekadar menilai hasil akhir. gacor66
Beberapa riset unggulan mendorong pendekatan integratif—misalnya menggabungkan permainan tradisional Sunda dengan sains sederhana dan literasi cerita rakyat. Ada pula pengembangan perangkat asesmen perkembangan sosial-emosional yang peka konteks budaya lokal. Semua ini memperkaya repositori pengetahuan PAUD yang relevan dan dapat direplikasi.
Pembelajaran yang Kontekstual dan Reflektif
Dalam kelas, saya mempraktikkan pembelajaran yang menantang sekaligus ramah. Mahasiswa tidak hanya membaca teori Montessori, Vygotsky, atau Bronfenbrenner; mereka memeriksa konteks, memvalidasi asumsi, lalu merancang intervensi nyata. Pendekatan andragogi dan project-based learning menjadi tulang punggung, disokong microteaching, klinik kurikulum, dan praktik lapangan berjenjang.
Setiap mata kuliah memiliki keluaran yang jelas: rencana pembelajaran mingguan berbasis bermain, portofolio asesmen, dan media ajar low-cost. Kami mengajak mahasiswa berlatih refleksi kritis—mencatat, mendiskusikan, lalu memperbaiki. Dosen bertindak sebagai fasilitator, sementara mitra PAUD menjadi co-mentor. Saya percaya suasana belajar yang kolaboratif menumbuhkan kepekaan, kreativitas, dan etika profesi.
Pengabdian Masyarakat yang Kolaboratif
Pengabdian di PGPAUD Tasikmalaya UPI bertumpu pada kemitraan dengan pemerintah daerah, HIMPAUDI, dan lembaga PAUD swasta maupun negeri. Kegiatan meliputi pendampingan satuan PAUD dalam menyusun KOSP, pelatihan asesmen autentik, penguatan literasi keluarga, hingga kelas orang tua tentang pengasuhan positif. Saya ikut terjun dalam program pendampingan desa ramah anak: membangun pojok baca, merancang sentra bermain berbasis bahan alam, dan menginisiasi kelas sains sederhana yang aman.
Dampak yang terasa adalah meningkatnya kapasitas guru dan partisipasi orang tua. Kami mempraktikkan evaluasi berbasis data—kuesioner pra-pasca, observasi terstruktur, dan studi kasus—agar setiap intervensi dapat diperbaiki dan diperluas cakupannya. slot depo 1000
Sinergi Tiga Pilar
Riset memberi bahan bakar untuk inovasi pembelajaran, sementara pengabdian menjadi laboratorium hidup untuk menguji dan menyempurnakan temuan. Saya menyukai siklus umpan balik ini: dari kelas ke lapangan, kembali ke kelas, dan berlanjut ke publikasi serta kebijakan tingkat lokal. Dengan demikian, PGPAUD Tasikmalaya UPI bukan hanya penghasil lulusan, melainkan penggerak ekosistem PAUD yang berkelanjutan.
Penutup
Ke depan, saya memimpikan jejaring riset kolaboratif lintas kampus dan lintas negara, penguatan laboratorium digital PAUD, serta inkubasi inovasi media ajar berbasis budaya lokal. Dengan semangat reflektif dan keberpihakan pada anak, PGPAUD Tasikmalaya UPI akan terus menebar manfaat—dari ruang kelas kecil hingga komunitas yang lebih luas.



